Anggie Aprilia Umatjina

Anggie Tanggalkan Rasa Malu Demi Cita-Cita

Angkat Derajat Keluarga

Tanpa kendaraan, untuk mencapai sekolah Anggie harus berjalan kaki dan naik angkot setiap hari. Anggie pernah menjadi pengajar honorer kegiatan Pramuka di sebuah sekolah dasar. Dia terpaksa berhenti dari pekerjaan sambilan itu setelah pindah ke rumah kontrakan yang sekarang. Lokasinya menjadi terlalu jauh untuk dijangkau dengan berjalan kaki dan tidak ada rute angkot ke sekolah tersebut.

Keluarga ini hanya punya satu smartphone yang dipakai bersama. Anggie dan Keyla menggunakannya untuk keperluan belajar, sementara ibunya menggunakan ponsel yang sama untuk melayani pesanan katering.

“Setelah lulus, saya mau bekerja dulu. Harapannya dari pekerjaan itu saya bisa mengumpulkan uang untuk membiayai kuliah. Setelah uangnya cukup, baru saya mau mendaftar,” kata Anggie.

“Orang tua saya pendidikannya hanya sampai SMK. Saya ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya. Biar orang yang meremehkan bisa tahu bahwa saya bisa mengangkat derajat orang tua. Orang tua saya ingin saya menjadi pengacara. Saya pribadi ingin mendalami psikologi,” ujar gadis kelahiran April 2007 itu.

“Pesan saya untuk teman-teman yang sedang mengalami masalah serupa dengan saya, teruslah berusaha. Mungkin sedikit demi sedikit bisa membantu orang tua. .Jangan patah semangat. Jangan malu menunggak SPP karena semua orang pasti ada kesusahannya masing-masing. Jangan pernah putus asa dalam mengejar impian kita,” kata Anggie berpesan.

Pages: 1 2


Comments

One response to “Anggie Tanggalkan Rasa Malu Demi Cita-Cita”

  1. […] uang sekolah. Kebetulan, sekolah yang siswanya paling banyak menerima bantuan Patungan SPP adalah SMK Teknindo Jaya, yang lokasinya tidak jauh dari Kantor Kelurahan Ratu […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *